| Dahlan Faqih, Jatuh Bangun Bermimpikan Keseimbangan |
|
|
|
| Written by Abu Farhan |
| Sunday, 05 November 2006 07:00 |
|
101% Asli Selayar Meskipun tidak lahir dan dibesarkan di Selayar, pria berpostur tubuh sedikit gemuk ini protes keras kalau disebut bukan orang Selayar. "Dengan kedua orang tua yang asli dari Selayar, saya merasa 101% asli Selayar", demikian beliau berkomentar. Karena memang Basse Opu, sang ibu, dan A. Hasan Faqih, sang bapak adalah asli orang Selayar. Dialah Dahlan Faqih, seorang pengusaha muda yang menetapkan kota Balikpapan sebagai lahan garapan usahanya. Lahir di Makassar, 22 November 1967, sebagai anak ke 7 dari 9 anak keluarga Basse Opu dan Hasan Faqih, pasangan asal Batangmata, Barugayya dan Barang-barang, Kabupaten Selayar. Saat masih kecil, saya hampir selalu menghabiskan waktu liburan sekolah di Selayar, sehingga apapun tentang Selayar, selalu mengingatkan saya pada masa-masa menyenangkan saat berlibur. Demikian dia berucap seakan memproklamirkan bahwa apapun yang terjadi dan dimanapun beliau berada, dirinya tetap orang Selayar. Dari Sekolah, Menjadi Teknisi ![]() Perjalanan hidup beliau tidaklah tergolong mulus. Dengan berlatar belakang 9 orang bersaudara, dia tidak pernah juga menyepelekan urusan pendidikannya. Karena memang sang bapak berprinsif, Pendidikan adalah wujud investasi terpenting buat anak-anak. Sehingga urusan pendidikan adalah harus di atas segala-galanya. Akan tetapi, badai itu datang menghantam tatkala Dahlan remaja duduk di kelas 3 SMAN 1 Makassar. Sang Bapak, tiang utama keluarga besar ini harus rela dipanggil kembali ke keharibaan Yang Maha Kuasa. Ditinggalkan bapak, jiwa Dahlan remaja mulai goyah, seolah merasa tidak siap hidup tanpa seorang ayah. Ke sekolah pun jadi seadanya. Niat belajarpun menurun drastis. Akibatnya, tamat dari SMA pun dengan nilai yang kurang menggembirakan. Ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru(Sipenmaru) PTN pun, hasilnya tidak memuaskan, gagal total. Namun karena masih ada sedikit keinginan untuk dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, swasta pun diembat. Dahlan memupus keinginannya masuk perguruan tinggi negeri, lalu berubah haluan masuk ke Teknik Elektro Universitas Muslim Indonesia(UMI) Makassar tahun 1987. Keinginannya untuk mengurangi beban keluarga, "memaksa"nya meninggalkan UMI tahun 1991, tanpa berhasil memasang toga sarjana di kepala. Lalu, minggat mengadu nasib ke Jakarta, ibukota republik ini. Ijazah SMA ditambah embel-embel 4 tahun kuliah di Teknik Elektro UMI itulah yang menjadi modal dasar mencari pekerjaan di ibukota. Ketatnya persaingan, tidak mampu menyurutkan niat melamar kerja sana sini. Akhirnya kegigihan itu membuahkan hasil, Dahlan diterima di PT. Garuda Power Equipment tahun 1991 itu juga. Sesuai dengan background pendidikannya, beliau ditempatkan sebagai Product Support Engineer. Waktu berjalan terus, yang akhirnya tahun 1996, PT. Garuda Power Equipment menugaskan Dahlan pindah ke cabang Balikpapan. Di lingkungan baru itu, keinginannya untuk ber-wirausaha mulai bergejolak. Iklim usaha kota Balikpapan yang sangat menjanjikan, membuat jiwa entepreuner-nya bak luka kesiram air garam, tambah bergelora. Akhirnya tatkala kantor pusat membutuhkannya kembali dipusat, niatnya sudah bulat untuk membuka usaha sendiri. Karir yang mulai menanjak di PT. Garuda Power Equipment pun tanpa rasa ragu ditinggalkannya, lalu beliau membentuk perusahaan sendiri yang bergerak di bidang pengadaan barang-barang teknik dan suku cadang heavy truck. Customer utamanya adalah perusahaan tambang batu bara serta perusahaan perkayuan yang memang banyak beroperasi di Kalimantan Timur. Bangkrut & Bangkit Lagi Keputusan resign dari PT. Garuda Power Equipment tentu bukanlah keputusan yang gampang. Iklim usaha yang sangat menjanjikan di Balikpapan, tidak serta merta menjadi surga buat pengusaha muda. Demikian pula yang dialami Dahlan. Biduk perusahaan yang dinakhodainya tidak jarang berhadapan dengan badai yang datang silih berganti. Sebuah permasalahan selesai teratasi, lalu tanpa diundang, kemudian muncul lagi permasalahan baru. Menuntut kejelian membuat keputusan yang tepat, dan kesabaran serta keuletan untuk selalu bisa survive. Karena memang demikianlah yang namanya berusaha. Menanam padi sudah pasti sang rumput akan ikut meramaikan suasana untuk melatih kesabaran dan keuletan sang petani. Akhirnya, sekitar 5 tahunan yang lalu, tatkala sebuah guncangan besar menerpa usahanya, biduk tersebut tiada bisa berkutik. Dan sesuai dengan kodratnya, perusahaan Dahlan kembali ke asalnya, menjadi tidak ada. Usahanya bangkrut yang hanya meninggalkan seribu satu kenangan serta rasa kekecewaan dan segudang bahan introspeksi. Namun, bukan Dahlan kalau hempasan badai itu akan membuatnya surut kembali ke pantai. Beliau mengumpulkan sedikit demi sedikit kekuatan yang tersisa, dan "Bismillah!", layar yang kedua kembali berkembang. Perusahaan baru pun kembali beroperasi. Bidang yang digarap pun tidak beda jauh dengan usaha pertamanya. Pengalaman buruk, membuatnya banyak belajar, menganalisa permasalahan utama yang menjadi batu sandungan usahanya yang lalu. Hasilnya, hingga saat-saat terakhir ini, perusahaan yang dipimpinnya itu memperlihatkan kondisi yang terus mengalami kemajuan. Niat Buka Usaha di Selayar Tatkala gencar-gencarnya kabar burung tentang akan dibangunnya Refinery(Kilang) di Selayar, Dahlan-pun membuat planning/ancang-ancang untuk bisa membuka usaha di tanah nenek moyangnya, Selayar. Bagaimanapun, Dahlan tetap menganut prinsif, "Hujan Emas di negeri Orang, hujan batu di negeri sendiri, masih milih negeri sendiri". "Kalau kesempatan di tanah leluhur ada, kenapa tidak", demikian kira-kira apa yang ada dalam pikirannya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, selama itu pemerintahan pun sudah beberapa kali berganti. Namun realisasi Kilang Minyak tersebut tidak pernah menampakkan perkembangan yang berarti. Bahkan kadang kabarnya saja seakan-akan hilang tak berbekas entah ke mana. Masyarakat yang terlanjur menaruh harapan akan adanya perbaikan nasib masyarakat pulau dengan adanya proyek besar tersebut pun sedikit demi sedikit mulai menampakkan suara kekecewaan. Demikian juga dengan Dahlan, yang sampai sekarang masih tetap menaruh harapan Kilang itu bisa terealisasi, lalu beliaupun bisa membuka usaha di tanah leluhurnya.
Selain kesibukan di atas, hampir tidak ada kegiatan rutin lain yang menyita waktunya. "Paling ada di rumah berkumpul bersama keluarga", demikian pengakuannya kepada selayar dotcom sambil menggaruk-garuk jidatnya yang kelihatan sudah mulai melebar terkikis oleh kerasnya perjuangan hidup. Saat ini, Annisa Putri Amanda(7thn), putri hasil perkawinannya dengan Meilani Budiyanti, wanita kelahiran Kebumen dan dibesarkan di Balikpapan itu, memang sementara dalam usia lucu-lucu-nya. Sehingga, mungkin bagi Dahlan, tidaklah merasa cukup kalau hanya dengan mengantarkan sang buah hati tiap hari ke sekolahnya di SDN 001 Balikpapan. Terima Kasih Internet! Kini, internet sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan Dahlan. Dari kegiatan yang sekedar hobby, hingga masuk ke aktifitas lingkungan kerja, internet sudah selalu menjadi pendampingnya. Beliau merasakan seakan hidup menjadi tidak lengkap tanpa fasilitas yang satu ini. Tetap Bermimpi Comments (0) |
| Last Updated ( Wednesday, 22 October 2008 11:52 ) |





