Hikmah Kehidupan Print
Written by Wali, Selayar Dotcom   
Friday, 20 February 2009 14:39
(Oleh Niel Makinuddin) - aktivis penyelamat lingkungan, bekerja dan tinggal di Kal-Tim 

Ketika kita baru lahir ke dunia ini, pendengaran adalah indera yang pertama kali difungsikan oleh Allah. Demikianlah informasi yang bisa kita ambil dari kitab suci. Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.(QS 67:23). Apa istimewanya pendengaran sehingga menjad iindera pertama yang musti difungsikan? Kenapa pula dihubung-hubungkan dengan rasa bersyukur. 
Beberapa ahli meyakini bahwa pendengaran adalah organ yang terakhir kali masih berfungsi ketika manusia mulai kehilangan kesadaran. Sebagai contoh, ketika anda dibius karena hendak ada tindakan operasi, maka mata kita sudah mulai menutup atau tidak berfungsi, maka organ telinga kita masih bisa mendengar. 

Atau, ketika kita tidur, yang pertama kali berfungsi adalah indera pendengaran. Untuk itu, sebelum kita melihat, kita sudah bisa mendengar lebih dahulu. Mungkin karena itulah, banyak dari kita menggunakan alat bantu berupa waker (alat yang berfungsi membangunkan) untuk menyapa telinga. Ketika telinga sudah disapa dan "bangun", maka indera-indera yang lain akan mulai berfungsi kembali. 

Saya sendiri semakin kagum, kenapa Allah menciptakan telinga kita dua. Kenapa mulut hanya satu saja. Kenapa pula telinga bersama mata dan mulut itu diletakkan di kepala. Diletakkan di tempat yang termasuk paling tinggi dari posisi tubuh manusia. Kenapa ia tidak diletakkan di dekat pantat, atau di telapak kaki saja. Kenapa pula telinga kita diletakkan disamping kiri dan kanan, tidak diletakkan diatas kepala kita atau di depan dan belakang kepala kita. 

Kenapa indera pendengaran ini tidak perlu dibersihkan sering-sering, seperti gigi atau rambut. Pasti, dan saya yakin sungguh pasti, semua ini ada rahasia dan hikmah yang harus kita fahami dan ungkap agar kita lebih cerdas dalam memetik pelajaran. Allah sering memberikan pelajaran bukan dengan huruf-huruf, melainkan dengan ciptaanNya baik yang yang ada dalam diri kita (alam semesta kecil) maupun di luar diri kita (alam semesta besar). 

Beethoven dan Kitaro adalah sedikit dari manusia-manusia yang mampu menangkap keindahan bahasa Tuhan itu ditabir suara dan nada ini dengan sangat baiknya, dan beliaupun mampu pula menerjemahkannya menjadi susunan tangga irama dan nada musik yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Rasanya bangsa manapun bisa menikmati olahan kang Beethoven dan mas Kitaro.. 

Kembali ke kehidupan sehari-hari. Banyak dari kita, kalau mau jujur, belum mampu memfungsikan pendengaran kita secara optimal. Kita justru lebih sering memfungsikan mulut, meski ia jumlahnya hanya satu. Ada baiknya kalau kita bikin uji coba terhadap diri masing-masing. 

Coba perhatikan setiap kali kita interaksi dengan orang lain, khususnya bila orang lain tersebut adalah bawahan kita. Atau, bila orang lain tersebut adalah kita anggap lebih muda, lebih sedikit gelarnya, lebih "rendah" status ekonomi-sosialnya. Atau, orang lain tersebut kita persepsikan "sedang tidak kita perlukan"... . maka, kecenderungan kuat yang terjadi adalah kita tidak ingin mendengarnya. Kita lebih ingin memberikan "kuliah" alias pakai mulut kita. 

Kurang optimalnya fungsi "pendengaran" patut diduga menjadi salah satu akar dari berbagai konflik dan kemelut dalam rumah tangga, masyarakat, organisasi maupun tatanan dunia. Dalam skala rumah tangga, suami dan istri yang belum melatih indera pendengarannya (baca: menyimak masing-masing dengan bijak) sejak awal berumah tangga, maka bisa dikatakan rumah tangga tersebut cenderung mendekati rumah tangga "zona perang". Bayangkan, masing-masing lebih cenderung pakai mulut, dibandingkan pakai telinga. 

Dengan kata lain, kita lebih cenderung menggunakan telinga kita hanya untuk atasan kita atau seseorang yang status dan posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan kita. Atau, orang yang kita anggap mampu memperbaiki nasib dan popularitas kita. Telinga telah kita bohongi dan kita ajak untuk diskriminasi. Sehingga, jangan heran ketika kelak di akhir jaman, telinga memberikan kesaksian yang memberatkan timbangan buruk kita, bukan meringankan. 

Padahal, Tuhan membuat rancangan telinga kita bukan untuk orang yang "lebih kuat" dibandingkan kita. Bahkan, sebaliknya kita harus lebih kuat mendengar orang atau kelompok yang lebih "rendah" dibandingkan kita. Bahkan, Tuhan pun sering menitipkan pelajaran dan petunjuk lewat orang-oran yang kita "remehkan" tersebut. Tuhan adalah pembela orang-orang yang diremehkan, demikian juga para nabi dan rasul. 

Sewaktu muda, para aktivis (yang sekarang sudah menduduki posisi terhormat di eksekutif maupun legislatif) sering mengagung-agungkan semboyan Vox populi vox dei (suara rakyat, adalah suara Tuhan). Namun, begitu sudah diberi Tuhan jabatan, kesempatan dan posisi (yang seharusnya untuk membela vox populi), eh.. malah menjadi musuhnya orang banyak. Jabatan, kesempatan dan posisi ternyata telah mampu menurunkan kapasitas dan kualitas "pendengaran" kita. 

Mari kita belajar melatih pendengaran kita, agar kita bisa lebih cerdas dan menerima lebih banyak "hikmah kehidupan" langsung dari Tuhan. Tidak ada salahnya kita meniru cara kang Beethoeven dan mas Kitaro dalam mensyukuri nikmat pendengaran.

Regards,
Wali

Comments (0)

Last Updated ( Friday, 06 March 2009 14:39 )