| Minyak Tanah, Menambah Penderitaan Masyarakat |
|
| Written by Sharben selayar dotcom |
| Sunday, 05 October 2008 15:38 |
|
Kenaikan harga minyak dunia, membuat presiden SBY beberapa waktu yang lalu menempuh langkah mengurangi subsidi BBM karena memang subsidi tersebut sangat menguras dana APBN. Akibatnya, harga BBM di pasaran jadi melambung dari sebelumnya. Di Kabupaten Selayar minyak tanah sudah menjadi suatu kebutuhan utama setiap rumah tangga selain sembako sebagai bahan bakar untuk kompor, lampu petromak dan pelita (peang-peang). Dengan semakin dikuranginya subsidi pemerintah terhadap bahan bakar minyak, bagi masyarakat Selayar tentu menjadi pukulan telak yang menambah kesulitan hidup sehari-hari. Menurut informasi yang sempat dihimpun oleh Sharben, anggota komunitas Selayar Dotcom, bahwa harga minyak tanah di Kabupaten Selayar pun ikut melambung. Harga pasaran minyak tanah di saat ini sudah bervariasi. HET (Harga Eceran Tertinggi) yang dipatok Agen di Kabupaten Selayar adalah Rp. 3.500,- /liter. Sehingga jika sudah diecerkan lagi oleh pedagang "rumahan" naik lagi mencapai harga Rp. 4.000,- s/d Rp. 4.500,- /liter. Belum lagi bila terjadi kelangkaan minyak tanah yang diakibatkan oleh lambatnya pengiriman dari Kab. Bulukumba akibat krisis BBM, bahkan harganya semakin melambung mencapai kisaran harga Rp. 5.000,- s/d 7.500,-. /liter. Masyarakat hanya bisa pasrah mengikuti gelombang harga minyak tanah tersebut, karena memang minyak tanah sudah merupakan kebutuhan primer sebagian rumah tangga di Kabupaten Selayar. Disisi lain bagi masyarakat yang berpendapatan rendah, minyak tanah masih dianggap sebagai barang mewah yang belum bisa terjangkau untuk dibeli. Sebagai unsur penghematan, mereka menggunakan kayu bakar sebagai bahan baku utama untuk kebutuhan dapur, sementara minyak tanah hanya dipakai di malam hari untuk menyalakan lampu petromak ataupun pelita (peang-peang). Selain harga minyak tanah yang terasa berat, mereka juga menganggap memasak nasi, air dan jenis masakan lainnya dengan memakai kayu bakar aromanya jauh lebih harum dibanding memasak dengan minyak tanah. Dalam mengatasi keadaan kelangkaan minyak tanah, sebagian masyarakat sudah ada yang beralih dengan menggunakan kompor arang. Mereka menggunakan bahan bakar dari arang kayu ataupun arang batok kelapa. Dengan mengingat kondisi Kabupaten Selayar yang kaya dengan tanaman pohon kelapa, solusi ini dinilai sangat tepat dan mampu mengatasi situasi tersebut diatas, atau minimal bisa meringankan beban akibat melonjaknya harga minyak tanah tersebut. Seperti halnya minyak tanah, bahan bakar minyak lain seperti premium dan solar juga sering mengalami kelangkaan. Dan harga di pasaran pun tentu ikut bervariasi. HET pada AMPS (Agen Minyak Premium Solar) mencapai Rp. 7.000,- / liter untuk premium dan Rp. 6.500,- /liter untuk solar. Harga ini diberlakukan setelah dihitung biaya pengiriman BBM dari Makassar ke Selayar. Bagi penjual minyak non Agen mematok harga Rp. 7.500,- / liter untuk premium dan Rp. 8.000 / liter untuk solar. Penjual oplosan, menjual premium bukan dalam takaran liter, tetapi menggunakan botol bekas seukuran kurang lebih satu liter dengan harga Rp. 8.000,- / botol. Terkait hal tersebut di atas, masyarakat Kabupaten Selayar mengharapkan Pemerintah dan pihak swasta dapat mengantisipasi kelangkaan dan krisis BBM yang terjadi. Mereka sebagaimana manusia biasa pada umumnya sangat benci terhadap keadaan malam yang mencekam tanpa nyala lampu akibat tidak adanya BBM. Mereka tidak ingin lagi antri berdesak-desakan untuk membeli satu liter minyak tanah. Atau ikan di pasar tradisional sudah tidak mampu terbeli dikarenakan lonjakan harga akibat solar yang dipakai nelayan yang semakin meroket. Ternyata kenaikan harga BBM semakin luas menggerogoti berbagai macam aspek kehidupan masyarakat daerah terpencil seperti Selayar ini. Comments (0) |
| Last Updated ( Saturday, 25 October 2008 15:40 ) |