Relaks
Warung Kopi PDF Print E-mail
Written by Sharben - Selayar Dotcom   
Saturday, 08 November 2008 11:42

Terinspirasi oleh artikel Nikmati Kopinya,Bukan Cangkirnya, Sharben, anggota komunitas Selayar Dotcom melukiskan tentang pandangan matanya terhadap sebuah warung kopi di Selayar. Untaian kata-kata itu, tertuang dalam bait-bait puisi sebagai berikut.

Warung Kopi

Pukul enam pagi engkau beraksi
Menanti mereka yang butuh secangkir kopi
Dari pejabat tinggi hingga tukang roti
Tak perduli diutang yang penting pasti

Terdengar sayup cerita basa-basi
Dari hak asasi sampai ke negosiasi    
Tak terasa waktu telah berganti
Silih berganti pergi tinggalkan kursi

Pukul enam sore engkau undur diri
Tetapi engkau telah berjanji
Bahwa esok akan bertemu lagi
Berbagi cerita yang lain dari hari ini.

---

By-SHARBEN@Puisi Koridor (Warkop Tjoelang),081108

Comments (0)

Last Updated ( Monday, 10 November 2008 11:43 )
 
Judul Film PDF Print E-mail
Written by Sharben - Selayar Dotcom   
Monday, 27 October 2008 07:00

Di Selayar pada era tahun 80an, promosi film untuk menarik minat pengunjung untuk menonton bioskop yaitu berkeliling kota Benteng dengan menggunakan kendaraan roda empat sambil membawa poster film yang akan ditayangkan tersebut. Pilihan bentuk promosi ini sungguh sangat tepat karena jumlah penonton biasanya lebih banyak dibanding jika hanya menempelkannya di dalam ruangan sekitar gedung bioskop.

Dalam melakukan aktivitas promosi ini, pihak pengelola bioskop memberikan tugas kepada 2 orang yaitu 1 orang sebagai sopir dan 1 orang lagi sebagai narator yang menceritakan penggalan kisah yang ada dalam tayangan film tersebut. 2 orang yang biasa melakukan pekerjaan ini, sebut saja namanya Salahuddin sebagai sopir dan Pak Saleh sebagai narator.

Cerita ini berawal ketika Salahuddin dan Pak Saleh berkililing kota untuk promosi film baru yang berjudul "PESUGIHAN RATU NYAI RORO KIDUL" yang dibintangi oleh aktor Barry Prima dan aktris Suzanna. Setelah melewati sebuah perkampungan yang ramai, Salahuddin melambatkan kendaraannya dan Pak Saleh mulai menceritakan penggalan kisah film tersebut lewat microphone yang dipegangnya.

"Bapak-bapak, ibu,-ibu dan saudara-saudara sekalian. Film ini…film terbaru untuk usia 17 tahun keatas yang akan ditayangkan nanti malam jam 7. Dengan dibintangi aktor laga Barry Prima yang gagah serta aktris seksi Suzanna".

Sudah menjadi kebiasaan bagi para anak-anak yang bediri di sepanjang jalan bila kendaraan ini lewat, mereka ikut berkonvoi di belakang kendaraan dan ada juga yang naik ke atas kendaraan sambil melambai-lambaikan tangannya.

Setelah Pak Saleh melewatkan interval selama 1 menit, kemudian melanjutkan narasinya dengan volume suara yang lebih keras.

"Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian. Datang dan kunjungilah bioskop Benteng untuk menonton film ini. Harga tiket masuk cuma 2.500 rupiah. Mari…bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara dan saksikan kehebatan para pemainnya".

Sebelum menyebutkan judulnya Pak Saleh sempat melirik ke arah kaca spion dan melihat kalau sudah banyak anak-anak yang naik ke atas mobil. Pak Saleh khawatir akan keselamatan mereka dan juga keselamatan baliho film yang ada diatas mobil.

Namun karena judul film tersebut belum disebutkan maka pak Saleh melanjutkan kata-katanya.

"Film ini disutradarai oleh Arifin C. Noer dengan judul….."

Karena tak tahan melihat tingkah anak-anak di belakang, maka Pak Saleh langsung menyambut dengan spontan dan tanpa sadar kalau suaranya terdengar jelas lewat microphone.

"OOEEEE…NAUNG NGASENGKO RI BOKO…!!!"

Maka jadinya bukan judul film yang seharusnya "PESUGIHAN RATU NYAI RORO KIDUL" tetapi menjadi "OOEEEE…NAUNG NGASENGKO RI BOKO…!!!".

Beberapa warga yang sempat mendengar, tertawa terbahak-bahak dan bahkan ada yang tertawa sambil memengang perutnya, begitupun dengan Salahuddin. Akibatnya Pak Saleh hanya diam sesaat, bingung, geram dan malu dengan apa yang baru saja dikatakannya.

 

Comments (0)

Last Updated ( Thursday, 30 October 2008 07:16 )
 
Jagung Berkeris PDF Print E-mail
Written by Sharben - Selayar Dotcom   
Monday, 20 October 2008 07:10
Sudah menjadi tradisi di Selayar apabila masa panen raya, para
masyarakat petani mengundang sanak keluarga untuk bersama-sama
menikmati hasil panennya. Tradisi ini juga dilakukan oleh Daeng Baso
yang mempunyai kebun jagung yang tak lama lagi siap panen.

Daeng Baso : Oh…Bunga (nama anaknya), Mae saiko ri Dato' Intang mu ampa sengkako ri Benteng. Kalakua kalimu i Udin, rie'i bede' battu ri mangkasara.
Bunga : Apa lakupau bapak..na battua konjo mange.!??
Daeng Baso : Mukua…naungki ri kampong a'tunu-tunu batara minggu riboko.
Bunga : Iyo'…la kupabattu juai.

Comments (1)

Last Updated ( Thursday, 30 October 2008 06:57 )
Read more...
 
Dalle' Puru PDF Print E-mail
Written by Sharben - Selayar Dotcom   
Saturday, 18 October 2008 15:50
Sudah dua hari ini Basir tidak keluar rumah karena sakit. Awalnya Basir merasa demam, meriang dan tidak tahan duduk lama. Melihat keadaan si Basir ini, Pak Latong ayah Basir segera memanggil Tabib kampung yang sudah terkenal bernama Daeng Sinara.

Sebelum mengobati si Basir, si Tabib meminta kepada Pak Latong untuk menyediakan segelas  air putih dan selanjutnya mendekati si Basir yang lagi terbaring lemas.

Daeng Sinara    :       "Basiri, angurako nak…?!!"
Basir          :       Isse'i inni Dengdensi…lumpuru ngaseng buku-bukungku.!!
Pak Latong      :       Barang latabai o..puru kabala, ka eja-eja ngaseng balulanna…
Daeng Sinara    :       Sabbaramaki Pak…kuso'ri i riolo, barang bambang-bambang biasa jua…

Setelah mengucapkan beberapa mantera khusus untuk penyakit "Puru"
(sejenis penyakit herpes/cacar), kemudian Daeng Sinara meniup air
putih tersebut lalu menyuruh Basir untuk meminumnya.

Daeng Sinara    :       "Inungi riolo je'ne inni Basiri…sesanna sapuangi ri kalemmu.
Basir   :       Iyo…Dengdensi, tarimakasih.
Pak Latong      :        Ampa la'busui jen'ne..na, kullejai ritomboso..???
Daeng Sinara    :       Sitoje'na…gelei kulle, jari ampa la'busumu…mae mamoki ri sapo ngerang je'ne bau pole.
Pak Latong      :       Baji'mu Dendengsi…ampa pakonjo sara'na.

Setelah selesai mengobati, Daeng Sinara berpamitan; tapi Pak Latong
meminta untuk tinggal sejenak karena ada sesuatu yang ingin diberikan
sebagai tanda terimakasih atas pertolongannya.

Dalam perjalanan pulang…Daeng Sinara pun merasa kecewa dengan pasiennya yang satu ini karena tidak pernah memberikan "upah" berupa uang, selalu buah-buahan saja ataupun sarung; padahal Pak Latong seorang Pegawai Negeri.

Dalam hati, Daeng Sinara menggerutu :

" Laampungiki Alla Taala…pangisse'na barang pa'gurunni pangisenngang lagampangangi. Mannamamo… a'rakkinnulung, mingka namaeki ripasara konni-konni gele minang…o..loka ato munte ripassambe juku' kamase,
doe'pa latarima. Maraengi ampa rie' pabalu' juku la taba puru, ampamaki la sare juku'na. Mingka…a'raji kira-kira juku' ripassambe baju ritoko..??? Kamasekumo kodong, pa'dallekangkua o..dalle' puru memang jua..!!!


Yang artinya :

Masya Allah, mereka kira mencari ilmu sebagai tabib itu sangat gampang. Walaupun ingin menolong tetapi sekarang ini kalau pergi ke pasar mana mungkin pisang atau jeruk mau ditukar dengan ikan, maunya uang. Lain halnya kalau penjual ikan yang sakit "Puru", sudah pasti diberi ikannya. Oooh…sungguh malang nasibku, sudah ditakdirkan kalau
aku hanya bisa menghidupi keluargaku sebagai seorang tabib "Puru".

Comments (0)

Last Updated ( Thursday, 30 October 2008 06:56 )
 
Belajar Berhitung PDF Print E-mail
Written by Sharben Selayar Dotcom   
Sunday, 12 October 2008 23:19

Suatu masa di sebuah dusun, ada sekolah rakyat dimana salah seorang murid bernama Undjung yang orangnya sangat dungu tetapi rajin bekerja kalau diperintah oleh Gurunya.

Saat pelajaran berhitung dimulai dan Undjung yang pertama mendapat giliran untuk diberi pertanyaan, sang Guru meminta Undjung untuk melihat ke papan tulis dan memperhatikan gambar pisang sebagai alat peraga.

Ibu Guru : Janjangi injo rate…Undjung, ampa rua loka ritamba tallu loka…jari sikura jumallana loka injo…Undjung..!?!!?

Undjung : Dengan spontan berkata….loka injo…sangnging loka jene' Bu.???

Ibu Guru : Iyo..Undjung, siaseia sangnging loka jene'

Sambil menelan air liurnya membayangkan betapa enaknya pisang tersebut, Unjung segera menjawab dengan tegas dan lantang :

Undjung : Nakke Bu..ampa loka jene' ??!!… kula'busui.

Ibu Guru : Ha..ha..ha..Undjung…Undjung, lokanjo gele rikanre riolo. Maimpai ri rekeng ampamu rikanre…

Murid lain : Memang…Bu, Undjung sanna' langaina lokanni, jari maimpai lakanre riolo ampai kulle la rekeng…hi..hi…hi…

Ibu Guru : Hmm..hm…hm…

Undjung : Nakke sambarangjua, surang pole na loka dadi' etang…kamase halena.

Comments (0)

Last Updated ( Saturday, 25 October 2008 23:21 )
 
More Articles...
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Page 3 of 4